Kamis, 19 Januari 2012

PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING


A.    Pengertian  Bimbingan dan Konseling
Mengikuti uraian pada Bab I dan Bab II dapat diambil pengertian bahwa pelayanan bimbingan dan knseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia dan oleh manusia. Dari manusia, artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat keberadaan manusia dengan segenap.dimensi kemanusian.Untuk Manusia dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut diselenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik manusia sebagai individu maupun kelompok.Proses bimbingan dan konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaanya sebagai totalitas,yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan – kecenderungannya perkembangannya dinamika kehidupannya , permasalahan - permasalahannya dan interaksi dinamis antara berbagai unsur yang ada itu.
Dalam Kehidupan sehari-hari seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan orang lainya,peristiwa bimbingan setiapkali dapat terjadi. Orangtua membimbing anak-anaknya; guru pembimbing murid-muridnya baik melaluai kegiatan pengajaranmaupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang di pimpinya melalui berbagai kegiatan.
Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia,muncullah kemudian  upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia.termasuk Indonesia.




1.      Pengertian Bimbingan
Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20 yaitu sebagaimana telah disingung di atas sejak dimulainya bimbingan di prakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri,dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson,dalam jones,1951).
… bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan - kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai suatu bentuk bantuan yang sistematik memalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesusaian. Yang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan. (Dunsmoor & Miller  dalam McDaniel, 1969)
Bimbingan membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. (Chisklom, dalam McDaniel,           1959). Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang terartur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri ,yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman –pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi massyarakat. (Lefeveradalam McDaniel1959).
Bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu – individu guna membantu mereka memperololeh pengetahuan  dan keterampilan- keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan-pilihan , rencana – rencana dan interpretasi – interpretasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.(smith dalam McDaniel 1959).
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang laki-laki atau perempuan,yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu- individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan kehidupannya sendiri,membuat keputusan hidupan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.(crow & crow, 1960).
Hal-hal pokok yang terdapat dalam rumusan bimbingan tersebut ialah:
Rumusan 1 (Parson, dalam Jones, 1951)
a.      Bimbingan diberikan kepada individu.
b.      Bimbingan mempersiapkan individu untuk memasuki kemajuan dalam jabatan.
c.       Bimbingan menyiapkan individu agar mencapai kemajuan dalam jabatan.
Rumusan 2 (Dunsmoor & Miller, dalam McDaniel, 1959)
a.      Bimbingan berusaha membatu individu.
b.      Bimbingan berusaha memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan, jabatan.
c.       Bimbingan dilakukan secara sistematik.
d.     Bimbingan bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan.
Rumusan 3 (Chiskolm, dalam McDaniel, 1959)
a.      Bimbingan membantu setiap individu.
b.      Bimbingan berusaha agar klien memahami diri sendiri.
Rumusan 4 (Levefer, dalam McDaniel, 1959)
a.      Bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan.
b.      Bimbingan dilakukan secara teratur dan sistematik.
c.       Bimbingan diberikan kepada anak muda.
d.     Bimbingan menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri.
e.      Bimbingan berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna.
Rumusan 5 (Smith, dalam McDaniel, 1959)
a.      Bimbingan merupakan suatu proses layanan.
b.      Bimbingan memberikan bantuan kepada individu.
c.       Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
d.     Bantuan yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan, rencana-rencana, dan interpretasi-interpretasi.
e.      Bantuan untuk penyesuaian diri yang baik.
Rumusan 6 (Crow & Crow, 1960)
a.      Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan seseorang laki-laki atau perempuan.
b.      Bimbingan berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik.
c.       Bantuan melalui bimbingan diberikan kepada individu.
d.     Bimbingan untuk klien sembarang usia.
e.      Bimbingan bertujuan agar klien memperoleh kemandirian dalam membuat rencana dan membuat keputusan-keputusan.
f.        Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang dibuat.
Rumusan 7 (Tiederman, dalam Bernard & Fullmer, 1969)
Bimbingan membantu seseorang agar menjadi berguna.
Rumusan 8 (Mortensen & Schmuller, 1976)
a.      Bimbingan merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan.
b.      Bimbingan menyediakan berbagai kesempatan.
c.       Bimbingan dilakukan oleh orang yang ahli.
d.     Bimbingan mengembangkan kemampuan secara optimal.
e.      Bimbingan sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat, kemampuan, dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Rumusan 9 (Bernard & Fullmer, 1969)
a.      Bimbingan itu dilakukan dengan berbagai cara.
b.      Bimbingan itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri.
c.       Bimbingan itu diberikan kepada individu.
Rumusan 10 (Mathewson, dalam Bernard & Fullmer, 1969)
a.      Bimbingan merupakan pendidikan dan perkembangan
b.      Bimbingan ditekankan pada proses belajar.
Rumusan 11 (Jones, dkk, 1970)
a.      Bimbingan merupakan proses bantuan.
b.      Bimbingan diberikan kepada individu.
c.       Bimbingan bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara bijaksana.
d.     Bimbingan dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-psinsip demokrasi bahwa setiap individu mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri.
e.      Dalam memilih jalan hidupnya itu, individu tidak boleh mencampuri hak orang lain.
f.        Kemampuan membuat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan tidak diturunkan/diwarisi, melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan.
Memperhatikan hal-hal yang terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan di atas, tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari masa ke masa. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dan kehidupan manusia.
Merangkum keseluruhan isi yang terdapat di dalam pelayanan tentang bimbingan di atas, dapat dikemukakan unsure-unsur pokok bimbingan sebagai berikut:
1.      Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. Ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini.
2.      Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan.
3.      Bantuan itu diberikan kepada individu, baik perseorangan maupun kelompok.
4.      Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri.
5.      Bimbingan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai bahan interaksi, nasihat, ataupun gagasan, serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri, konselor maupun dari lingkungan.
6.      Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja, tetapi meliputi semua usia, mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
7.      Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli, yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling.
8.      Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena klien mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri, sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain.
9.      Satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan di atas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Dalam kaitan ini, upaya bimbingan, baik bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2.      Pengertian Konseling
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.
Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling pun mengalami perubahan dan perkembangan. Kutipan dibawah ini menampilkan perkembangan sejumlah rumusan konseling.
…konseling adalah kegiatan di mana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, di mana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. (Jones, 1951).
Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychology).
Hal-hal pokok yang terkandung dalam masing-masing rumusan konseling tersebut adalah sebagai berikut:
Rumusan 1 (Jones, 1951)
a.      Konseling terdiri atas kegiatan: pengungkapan fakta atau data tentang siswa, serta pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya.
b.      Bantuan itu diberikan secara langsung kepada siswa.
c.       Tujuan konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik, semakin maju.
Rumusan 5 (Division of Conseling Psychology)
a.      Konseling merupakan proses pemberian bantuan.
b.      Bantuan diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya.
c.       Konseling dapat dilakukan pada setiap waktu.
d.     Konseling bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal.
Dengan memperhatikan satu persatu rumusan-rumusan yang disajikan tersebut, terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling, yaitu seperti berikut:
a.      Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif.
b.      Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata.
c.       Semua rumusan, baik langsung ataupun tidak langsung, menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses.
d.     Rumusan-rumusan itu pada umumnya memperlihatkan bahwa hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan, pemahaman, penerimaan, kebebasan, dan keterbukaan.
e.      Sebagian dari definisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (konselor dan klien) konselor sebagai ahli,  sebagai orang yang lebih tua.
f.        Hampir semua rumusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien.
Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda, namun di antara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan. Kesamaan itu menyangkut ciri-ciri pokok berikut ini:
a.      Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu.
b.      Model interaksi di dalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dan klien saling berbicara.
c.       Interaksi antara konselor dan klien berlangsung dalam waktu yang relative  lama dan terarah kepada pencapaian tujuan.
d.     Tujuan dari hubungan konseling ialah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.
e.      Konseling merupakan proses yang dinamis, dimana individu klien dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam mengatasi masalah-masalah yang sedang dihadapi.
Dengan ciri-ciri pokok demikian dapat dirumuskan bahwa dengan singkat pengertian konseling, yaitu: konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.

B.     Istilah Penyuluhan dan Konseling
Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan, yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”.
Masyarakat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan berbagai terjemahan dari istilah asing “Guidance and Counseling”. Dengan demikian yang dimaksud dengan “penyuluhan” disini adalah sesuatu yang sama artinya dengan konseling. Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan dan penyuluhan seperti telah memasyarakat, khusus di kalangan persekolahan. Namun sejak awal tahun 1970-an muncul pemakaian istilah “penyuluhan” yang sama sekali di atur pengertian konseling sebagaimana dimaksudkan semula (Prayitno, 1987). “Penyuluhan” dalam pengertiannya yang kemudian itu lebih mengarah pada usaha-usaha suatu badan, baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kesadaran, pemahaman, sikap, dan keterampilan warga masyarakat berkenaan dengan hal tertentu.
Sejak tahun 1980-an, gerakan bimbingan mulai digalakkan dengan penggunaan istilah konseling. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnya dari usaha yang dimaksudkan itu.
Masih dalam rangka ketidaksepakatan dalam penggunaan istilah “penyuluhan” atau “konseling”, ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. Sayangnya, istilah baru ini, kalau memang ada, belum ditampilkan secara luas dan memasyarakat. Jalan tengah yang kedua ialah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan, dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. Pertama, karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswa sekolah dasar/menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. Kedua, jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”.
Berdasarkan uraian singkat tersebut, demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua, kiranya perlu dipakai sati istilah. Istilah yang dimaksud di sini ialah konseling. Kalau ada istilah asli Indonesia yang belum pernah dipakai untuk pengertian-pengertian non-konseling, sebenarnya akan baik juga. Istilah baru ini, kalau memang ada, tentulah harus dikaji terlebih dahulu ketepatannya.

C.    Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling
Di Negara-negara yang bimbingan dan konselingnya telah maju, terutama Amerika Serikat, perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna berbeda terus berlangsung. Miller (1961) meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Parson, pengertian baru mencakup bimbingan jabatan. Pada tahap awal ini, yang umumnya disebut sebagai priode Parsonian, bimbingan dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tentang individu dan tentang jabatan.
Periode kedua, gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Pada periode ketiga, pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja, tidak pula hanya mencocokkan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja melainkan juga bagi peningkatan kehidupan mental. Pada periode inilah rumusan tentang konseling dimunculkan. Para ahli bimbingan pada periode ketiga menyadari bahwa apa yang mereka lakukan “bukan hanya sekadar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan; mereka membantu individu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan mendasar” (Belkin, 1975).
Periode keempat, gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Periode kelima, tampak adanya dua arah yang berbeda, yaitu kecenderungan yang ingin kembali ke periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi social (dan personal) dalam rangka membantu pemecahan masalah yang dihadapi individu.Perkembangan lebih lanjut tentang rumusan bimbingan dan konseling memperlihatkan gejala yang amat menarik. Belkin (1975) secara tegas menolak konsep, rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan arti istilah konseling.
Berdasarkan uraian di atas secara praktis, tidak ada gunanya membedakan tugas atau ruang lingkup kerja konseling di satu sisi dan bimbingan di sisi lain. Keduanya disatukan saja dan digunakan satu istilah, yaitu konseling. Keseluruhan kerja konselor termasuk segenap, pendekatan, teknik, langkah-langkah, peralatan dan berbagai bahan dan saran lain yang digunakan klien, adalah pekerjaan konseling. Dengan digunakannya istilah konseling dengan arti yang lebih luas dan menyeluruh itu, sekarang pekerjaan konseling mencakup dimensi yang lebih luas dan tugas-tugas yang lebih kaya. Profesi konseling memiliki tujuan dan arah yang lebih jelas.

D.    Tujuan Bimbingan dan Konseling
Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling, maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan, dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:
…untuk membantu  individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu. (Hamrin & Clifford, dalam Jones, 1951).
…untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan (Bradshhow, dalam McDaniel, 1956).
…untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja. (Tiedeman, dalam Bernard & Fullmer, 1969).
Dengan proses konseling klien dapat:
·         Mendapat dukungan selagi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
·         Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternative, pandangan dan pemahaman-pemahaman, serta keterampilan-keterampilan baru.
·         Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri; mencapai kemampuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya; kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki. (Coleman, dalam Thompson & Rudolph, 1983).
Tujuan konseling dapat terentang dari sekadar klien mengikuti kemauan-kemauan konselor sampai pada masalah pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran, pengembangan pribadi, penyembuhan, dan penerimaan diri sendiri. (Thompson & Rudolph, 1983).
…pengembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. (Myers, 1992).
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkutpautnya, serta masing-masing bersifat unik. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.

E.     Asas-asas Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional. Sesuai dengan makna uraian tentang pemahaman, penanganan dan, penyikapan (yang meliputi unsur-unsur kognisi, afeksi, dan perlakuan) konselor terhadap kasus, pekerjaan professional itu harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efesien dan efektivitas proses dan lain-lainnya.
Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. Asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan, dan tut wuri handayani (Prayitno, 1987).

F.      Kesalahpahaman dalam Bimbingan dan Konseling
Kesalahpahaman yang sering terjadi di lapangan antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Bimbingan dan Konseling Disamakan saja dengan atau Dipisahkan Sama Sekali dari Pendidikan
2.      Konselor di Sekolah Dianggap sebagai Polisi Sekolah
3.      Bimbingan dan Konseling Dianggap Semata-mata Sebagai Proses Pemberian Nasihat
4.      Bimbingan dan Konseling Dibatasi pada Hanya Menangani Masalah yang Bersifat Insidental
5.      Bimbingan dan Konseling Dibatasi Hanya untuk Klien-klien tertentu saja
6.      Bimbingan dan Konseling Melayani “Orang Sakit” dan atau “Kurang Normal”
7.      Bimbingan dan Konseling Bekerja Sendiri
8.      Konselor Harus Aktif Sedangkan Pihak Lain Pasif
9.      Menganggap Pekerjaan Bimbingan dan Konseling Dapat Dilakukan oleh Siapa Saja
10.  Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berpusat pada Keluhan Pertama Saja
11.  Menyamakan Pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan Pekerjaan Dokter atau Psikiater
12.  Menganggap Hasil Pekerjaan Bimbingan dan Konseling Harus Segera dilihat
13.  Menyamaratakan Cara Pemecahan Masalah bagi Semua Klien
14.  Memusatkan Usaha Bimbingan dan Konseling Hanya pada Penggunaan Instrumentasi Bimbingan dan Konseling (Misalnya tes, Inventori, Angket, dan Alat Pengungkap Lainnya)
15.  Bimbingan dan Konseling Dibatasi pada Hanya Menangani Masalah-masalah yang Ringan Saja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Yahoo News: Top Stories