Rabu, 22 Februari 2012

Pergeseran Nilai Dalam Kehidupan Sosial Budaya Dan Pendidikan



Dalam bagian kedua dari abad 20 ini masyarakat di sebagian besar permukaan bumi ini terguncang dan terangsang oleh kemajuan pemikiran atau penalaran manusia-manusia genius dalam berbagai bidang keilmuan, terutama yang paling berdampak besar adalah kemajuan dalam ilmu dan teknologi. Pemikiran dan penalaran mereka semakin maju berkat ketekunan dan keuletan dalam menggali, meneliti dan menganalisa serta mensintesakan berbagai fakta dan fenomena alamiah yang digelarkan oleh Tuhan YME dalam jagad raya beserta kekayaan alaminya.
Dalam  proses  perubahan sosial-politik  di Eropa Timur itu dapat kita lihat peristiwa yang anti sosial, sadisme, yang tak berprikemanusiaan yang sama sekali bertentangan dengan nilai moral dan agama.
Prinsipnya yang fundamental ialah antara kesenjangan hidup berkat dampak-dampak kemajuan iptek modern saat ini dengan tuntutan kebutuhan hidup modern harus di jembatani atau dipersempit rentangnya dengan keimanan dan ketaqwaan yang mendasari kekuatan sikap mental dan moral serta perilaku lahiriah manusia secara individual sebagai anggota masyarakat. Keimanan  dan ketaqwaan sebagai dasar kekuatan mental dan moral pribadi tersebut akan menjadi daya tangkal masyarakat terhadap segenap bentuk rongrongan dari dampak negatif kemajuan iptek modern yang semakin canggih.  
Kehidupan yang paling ideal pada masa kini dan yang akan datang ialah jika kekuatan Iman dan takwa dalam pribadi manusia dan masyarakat mampu menjadi pengendali, penyeleksi dan penyaring segala unsure kemajuan cultural dari luar yang memang secara intrinsic bersifat merusak mental dan moral masyarakat di satu sisi, sedang di sisi lain ia mampu mengarahkan proses akulturasi dan alih teknologi modern itu sesuai dengan kemanfaatannya bagi keamajuan hidup masyarakat kita.

A.  Perbenturan Antara Nilai-nilai Kehidupan Umat Manusia
Persaingan hidup antar manusia yang berbeda atau sama kepentingannya itu pada gilirannya mendorong kepesatan kemajuan perkembangan iptek canggih sebagai alat yang terus berlangsung tanpa diketahui oleh ilmuwan genius manapun kapan mencapai titik puncaknya. Negara-negara yang sedang berkembang lebih bertawakal menantikan produk-produknya saja, karena merasa tidak mampu lagi berkreasi setinggi yang dimiliki oleh ilmuwan teknolog Barat yang telah maju. Proses produksi mereka lebih cepat dari proses belajar-mengajar bangsa-bangsa yang sedang membangun.
 Dalam kaitannya dengan perubahan sosial itu, ilmuwan bidang anthropologi seperti Herbert Spencer, memandang bahwa:
1)    Kehidupan umat manusia adalah berada dalam proses penyesuaian diri antara hubungan internal dengan yang eksternal (lingkungan). Dan prilaku manusia disesuaikan dengan tujuan hidupnya.
2)    Proses penyesuaian prilaku yang makin berkembang sesuai dengan tujuan berlangsung sepanjang hidup.
3)    Tiap orang secara intuitif adalah makhluk yang bebas memilih berbuat sesuatu yang ia kehendaki, asal tidak mengganggu kebebasan orang lain yaitu kebebasan itu ia pergunakan untuk mencari kebaikan bagi dirinya sendiri.
Sejalan dengan teori perubahan tersebut diatas, filusuf besar German, Imanuel Kant, memandang bahwa manusia itu sebagai makhluk yang bertujuan hidup dalam dirinya sendiri, padahal banyak orang mennganggap bahwa jiwa yang paling utama manusia adalah hasil kemajuan paling indah dari kehidupan moral manusia. (William Lillie, p.20)
Dalam proses interaksi antara nilai-nilai lama dan baru itu faktor yang menentukan survive (tetap hidup berkembang) atau tenggelamnya adalah daya rentangan nilai-nilai itu sendiri dalam batas-batas konfigurasinya sehingga mampu berakulturasi terhadap nilai-nilai baru dari luar. Dan ciri nilai demikian telah terbukti pengalaman dalam dunia islam zaman keemasan yang lalu.

B.  Krisis Nilai-nilai Dalam Kehidupan Masyarakat
Krisis nilai ini sangat mengganggu harmonisasi kehidupan manusia, karena sendi-sendi normative dan tradisional mengalami pergeseran yang belum menemukan pemukiman yang pasti. Kondisi kebudayaan sosial demikian menjadi goyah dan resah, yang ada pada gilirannya hidup kejiwaan manusia dalam masyarakat mengalami keguncangan-keguncangan.
Krisis nilai demikian mempunyai ruang lingkup yang menyentuh masalah kehidupan masyarakat yaitu menyangkut sikap menilai suatu perbuatan baik dan buruk, bermoral atau amoral, sosial atau asocial, pantas atau tidak pantas, dan bobot benar atau tidak benar serta perilaku lainnya yang diukur atas dasar etika pribadi dan sosial. Sikap-sikap penilaian tersebut mengalami perubahan kearah sebaliknya.
Pengaruh otoritas para ilmuwan di bidang sosial-kultural yang memberikan buah pikirannya kepada masyarakat saat ini besar pengaruhnya terhadap timbulnya krisis nilai tersebut yang antara lain tentang perlunya masyarakat memiliki sikap terbuka terhadap nilai-nilai atau ide-ide baru dari luar baik dari iptek maupun cultural asing, karena keterbukaan merupakan cirri dan sikap modern masyarakat; atau berpikir rasional dan logis, yang tanpa itu masyarakat akan tetap statis. Dan sikap-sikap responsive dan dinamis dalam perubahan sosial juga dicirikan sebagai sikap modern. Padahal himbauan demikian bagi masyarakat kita belum tepat-guna dalam pranata-sosial dan cultural. Perubahan radikal dalam masyarakat tentang masalah nilai, akan berdampak pada keresahan, kebringasan, dan keguncangan yang menggoyahkan stabilitas sosiokultural masyarakat. Disinilah kaum ilmuwan teknokrat perencanaan pembangunan perlu memiliki ketajaman wawasan berpikir komprehensif, dimana pola kehidupan masyarakat yang berdasarkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan yang semakin self-propelling menjadi sentral kearifan.
Berbagai resep dan konsepsi untuk menyembuhkan krisis nilai dalam kehidupan masyarakat, daripada pemimpin, ilmuwan teknokrat dan teknokrat ilmuwan, serta ulama ilmuwan dan ilmuwan ulama, namun krisis yang menggoyahkan sendi-sendi kehidupan manusia itu tetap terus berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan pembangunan, terutama bidang iptek yang serba canggih dan cepat. Kesemua gejala itu berpulang kembali kepada sikap dan kepribadian seseorang yang berperan sebagai objek pengaruh kemajuan dan yang menjadi subjek pencipta kemajuan itu sendiri.

C.  Sistem Pendidikan Modern dan Pergeseran Nilai-nilai
Pendidikan jika dipersepsikan sebagai alat enkulturasi umat manusia, maka segala bentuk atau unsure pengaruh dari perubahan sosial juga melanda dunia pendidikan. Oleh karena institusi kependidikan (sekolah) sanat erat hubungannya denan kondisi masyarakat yang harus dibudidayakan, maka fungsi ganda institusi kependidikan (sekolah) yaitu sebagai cermin cita-cita masyarakat dan pada saat tertentu menajdi great of social change, mencambuk kemunduran dan keterbelakangan masyarakat itu sendiri; pada hakikatnya adalah fungsi ganda yang sangat penting dalam modernisasi masyarakat.
Jika pendidikan dalam institusinya menjadi statis karena kehilangan harmonisasi kulturalnya (sebagai pusat pembudayaan) maka proses modernisasi akan mengalami stagnasi (mandeg); bila sebaliknya jika pendidikan dengan institusinya bergerak dinamis serta inovatif, masyarakat akan terpengaruh daripadanya. Jadi sebenarnya antara sekolah dengan dinamika masyarakat berada dalam kompetisi ideal dan moral bagi kehidupan yang diciptakan.
Sistem pendidikan seperti diharapkan oleh masyarakat kita adalah harus berfungsi sebagai pusat pembudayaan manusia yang mengarahkan kemajuan hidup yang sejahtera. Pendidikan menurut citra ahli iptek, baru akan berhasil guna dan berdaya guna serta bertepat guna jika mau jika mau dijadikan sumber pengembangan iptek, oleh karena itu ia harus berproses secara teknologis untuk mencapai tujuan atau produk yang seirama dengan kemajuan industrial-teknologis itu sendiri. Nilai-nilai dari manapun sumbernya tidak dilibatkan dalam proses tersebut, karena iptek bebas dari nilai, baik moral maupun spiritual.
Pandangan ilmuwan kependidikan menunjukkan adanya perubahan di sana-sini dalam masyarakat tentang nilai-nilai yang membawa konflik ke dalam dunia pendidikan. Masing-masing mereka melihat segi-segi kelemahan dan kekuatan sekolah sebagai lembaga pembudayaan masyarakat. Tendensi dari perubahan demikian, sumber dampaknya atara lain yang terpenting adalah kemajuan iptek modern di satu pihak, dan di pihak lain adalah tuntutan hidup manusia yang makin besar dan kompleks yang cenderung ke arah pragmatism dan materialism kehidupan.
Jadi dapat dikatakan bahwa posisi lembaga pendidikan kita saat ini sedang berada dalam arena konflik nilai-nilai yang membawa kepada transisi nilai kehidupan, baik spiritual maupun moral-etik, yang amat sensitive terhadap sentuhan-sentuhan nilai hedonistic (kenikmatan hidup) materiel dari kemajuan iptek.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Yahoo News: Top Stories